Kabar Sandy

Wirausaha yang dikelola secara terorganisir atau Perusahaan Keluarga? Strategi Analisa Gulf States Paper Corporation

leave a comment »

Wirausaha yang pengelolahannya bersifat Perusahaan keluarga bisa maju seperti Gulf States Paper Corporation yang didirikan sejak tahun 1884 dan bisa eksis sampai akhir abad 21. Hal ini karena perusahaan tersebut mempunyai visi dan misi yang jelas, kesabaran dalam menjalankan bisnisnya, saling percaya dan mempunyai rencana kedepan. Dalam menjalankan roda usahanya perusahaan tersebut telah menerapkan sistem kontrol keuangan yang ketat. Namun demikian ada juga sisi kekurangannya yaitu pertumbuhan perusahaan yang lambat, tidak mempunya rencana jangka panjang dan hanya memkirkan keuntungan dalam jangka pendek. Dalam berbisnis tidak terpengaruh oleh faktor eksternal dan dikelola secara konvensional, tidak ada istilah merger mapun aliansi maupun jual saham di pasar modal seperti ke Wall Street untuk mengembangkan usahanya. Berbeda dengan Wirausaha yang dikelola secara terorganisasi, maka perusahaan tersebut terorganisir dengan baik, mempunyai target kinerja,  dan mempunyai performance yaitu : mempunayi inovasi dalam mengambangkan usahanya, berani mengambil resiko untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan proaktive terhadap kondisi pasar serta agresif dalam merebut pasar berani bersaing terhadap kompetitornya. Dalam suatu research bahwa untuk mencapai sasaran kinerja yang diinginkan maka perusahaan tersebut harus mengeluarkan biaya tinggi dengan ikut serta pada suatu eksebisi (pameran)  dan melakukan entrepreneur orientasi (EO) dalam jangka waktu yang cukup lama .

Seperti disebut diatas bahawa seorang Entrepreneur harus mempunyai :

1.     Jiwa Inovasi, yaitu keinginan untuk mendukung kreativitasnya dengan melakukan eksperimen dalam memperkenalkan produk maupun jasa dengan menggunakan teknologi baru dan siap bersaing dengan kompetitornya.

2.     Proaktif , dari berbagai penelitian bahwa berani menambil resiko dan inovatif memegang peranan dalan menentukan keberhasilan dalam berwirausaha, maka penakanan dalam proaktif yaitu agresif dalam rangka meningkatkan posisi kompetitif dalam kaitannya dengan perusahaan lain

Dalam studi penelitian konsep proaktif dipandang sebagai mencari kesempatan ke depan yang melibatkan perspektif baru dalam memperkenalkan produk atau layanan di depan kompetitornya dan mengantisipasi permintaan di masa yang akan datatng dan tetap bertahan dalam jangka waktu yang cukup panjang.

De Geus (1997) menjelaskan bahwa perusahaan yang bisa bertahan dalam jangka panjang adalah perusahaan yang mampu beradaptasi dan berkembang sepanjang sejarah masa. Bahwa perusahaan gagal karena kebijakan dan praktek didasarkan pada terlalu banyak berpikir dan bahasa ekonomi. Perusahaan mati karena manajer fokus khusus pada produksi barang dan jasa, serta lupa bahwa organisasi adalah sebuah komunitas manusia yang ada di dalam usaha – usaha apapun – untuk tetap hidup “(de Geus, 1997: 52).

De Geus menyatakan bahwa sebagian besar organisasi yang mampu bertahan lebih lama dan bisa mendapatkan profit karena organisasi ini berhasil dengan empat karakteristik khusus yaitu:

  1. Konservatif terhadap keuangan
  2. Kepekaan terhadap dunia sekitar mereka
  3. Kesadaran akan identitas mereka
  4. Toleransi dari ide-ide baru.

Dengan menerapkan 4 karakteristik ini secara konsisten maka perusahaan tersebut akan meraup kuntungan yang besar dan akan menikmati sukses jangka panjang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan keluarga mempunyai beberapa kelemahan antara lain :

1.     Kurangnya profesionalitas.

Perusahaan keluarga umumnya tidak menggunakan prinsip manajemen modern. Meski profesionalitas dalam usaha itu tingkatannya berbeda-beda dan tiap perusahaan juga berbeda-beda, perlu ditekankan adanya profesionalitas pada perusahaan keluarga. Ini yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.

2.     Sistem keuangan yang masih menjadi satu.

Banyak sekali perusahaan keluarga yang tidak melakukan pemisahan antara keuangan perusahaan dan keuangan pribadi.

3.     Tidak adanya sistem dan prosedur yang sehat. Sangat sentralistik, sangat tergantung pada figur pendiri.

4.     Pemisahan jabatan yang masih berbasis keluarga.

Dalam prinsip manajemen modern, ada peluang untuk memisahkan. Ada aturan main yang bisa digunakan. Sehingga kekhawatiran adanya manipulasi dll bisa diikat dengan aturan main ini.

5.     Belum dianggap pentingnya faktor kinerja.

Banyak karyawan, adalah anggota keluarga, yang masih menganggap bahwa kinerja tidak penting. Bagi mereka, yang penting punya kemampuan membina hubungan dengan pemilik. Ini seringkali terjadi di bisnis keluarga. Prestasi kurang diperhatikan. Asalkan bisa dekat dengan pemilik maka sangat mungkin posisi naik terus. Walaupun kinerjanya tidak bagus.

6.     Perusahaan keluarga biasanya akan berakhir di generasi kedua.

Seringkali terjadi memang jika visi tidak dibangun dengan baik.

7.      Tidak memandang SDM sebagai aset perusahaan

Written by Sandy Wibisono

December 17, 2010 at 4:41 pm

Posted in Education

Tagged with ,

Global Production, Outsourcing and Logistic

leave a comment »

Salah satu strategi yang harus diperhatikan oleh perusahaan untuk going global adalah strategi dalam kegiatan produksi, outsourcing dan logistik perusahaan. Hal ini menjadi penting dikarenakan pusat kegiatan perusahaan (seperti produksi) akan banyak tersebar diberbagai negara yang dituju oleh perusahaan. Dalam kegiatan produksi yang efektif dan efisien maka harus ditunjang dengan logistik yang baik. Link dibawah ini menjelaskan tentang strategi Global Production, Outsourcing and Logistic. Mudah – mudahan dapat membantu para pembaca.

Global Production , Outsourcing , and Logistic

Written by Sandy Wibisono

December 16, 2010 at 4:56 pm

GE’s Two – Decade Transformation

leave a comment »

Berikut ini link yang menceritakan tentang transformasi yang dilakukan oleh GE selama dua dekade untuk mengembangkan GE menjadi perusahaan terbaik di dunia. Dalam slide tersebut dipaparkan bagaimana strategi – strategi yang dilakukan oleh Jack Welch selaku CEO terbaik yang pernah memimpin GE dalam malakukan transformasi perusahaan untuk menjadi terbaik didunia.

GE’s Two – Decade Transformation

Written by Sandy Wibisono

December 16, 2010 at 4:44 pm

International Entrepreneurship

with 2 comments

International Entrepreneurship merupakan kegiatan baru dan inovatif yang mempunyai tujuan untuk menciptakan nilai dan pertumbuhan didalam bisnis organisasi dengan menyeberangi batasan nasional ( McDougall and Oviatt ,1996).  Zahra (1993) mengatakan bahwa international entrepreneurship sebagai pelajaran dari perilaku sifat dasar dan konsekuensi dari pengambilan resiko sebuah perusahaan.

Seorang entrepreneur ketika akan melakukan usaha diluar negaranya harus memperhatikan kondisi dari negara yang akan dituju. Hal ini disebabkan karena setiap negara berbeda – beda kondisinya, misalnya aturan berbisnisnya. Jadi dalam menentukan strategi bisnisnya harus disesuaikan aturan – aturan dan kondisi dinegara tersebut. Selain itu sikap entrepreneurship itu harus mempunyai kepekaan untuk mendeteksi kesamaan dan perbedaan dari iklim politik, ekonomi dan hukum dari negara yang bersangkutan. Selain itu juga harus bisa melakukan investigasi perubahan yang ruwet pada negara – negara lain supaya bisa melihat apakah ada peluang atau ancaman bagi bisnis perusahaan.

Kultur dari suatu negara juga harus dijadikan aspek pertimbangan dalam melakukan bisnis di negara lain. Kultur merupakan suatu sistem dari nilai – nilai dan norma yang dibagi antara suatu grup dari orang – orang dan kapan mengambil bersama yang merupakan sebuah disain untuk kehidupan, Hofstede, Namenwirth dan Weber. Salah satu kultur yang harus diperhatikan adalah struktur sosial, religion, Bahasa, Pendidikan, Filosofi ekonomi dan Filosofi Politik. Secara garis besar digambarkan seperti dibawah ini. Terdapat 4 strategi untuk bisnis  internasional , yaitu :

  1. Menciptakan nilai dengan memindahkan kompetensi berharga ke pasar luar negeri yang kurang pesaing.
  2. Sentralisasi fungsi pengembangan produk ke rumah.
  3. Mendirikan fungsi manufaktur dan pemasaran di negara lokal tetapi kantor pusat menjalankan kontrol secara ketat.
  4. Membatasi pembuatan dari penawaran produk dan strategi pasar.

Salah satu faktor penting lainnya pada International Entrepreneurship adalah bagaimana strategi untuk masuk kedalam pasar baru di negara lain. Dalam membuat keputusan untuk masuk pada pasar baru , harus mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu :

1.     Pasar mana yang akan dimasuki

2.     Kapan masuk kedalam pasar tersebut (timing)

3.     Berapa skala untuk masuk (skala besar atau skala kecil)

Ada bebarapa cara yang bisa digunakan untuk masuk kedalam pasar baru dinegara lain, yaitu :

  • Exporting
  • Turnkey Projects
  • Licensing
  • Franchising
  • Joint Ventures
  • Wholly Owned Subsidiaries

Jadi pada intinya , international entrepreneurship dibutuhkan untuk melakukan usaha pada negara lain. Hal ini dibutuhkan supaya tidak terjadi kesalahan yang bisa mengakibatkan kerugian perusahaan. Terdapat berbagai macam strategi yang bisa digunakan untuk berbisnis dinegara lain.

Written by Sandy Wibisono

December 16, 2010 at 4:30 pm

Posted in Education

Tagged with ,

Alliances and Networks

leave a comment »

Pengertian aliansi (Alliances) merupakan kemitraan antar perusahaan di mana Resources, Capabilities, dan Core Competencies digabungkan guna mencapai kepentingan bersama untuk mengembangkan , memproduksi dan distibusi barang atau jasa. Terdapat 3 jenis Aliansi Stratejik, yaitu (1) Usaha Patungan / Joint Venture merupakan perusahaan independen diciptakan dengan aset bersama dari dua perusahaan yang berbeda di mana masing – masing menyumbangkan 50% dari total, (2) Aliansi Stratejik Ekuitas, yaitu kemitraan dimana dua mitra menguasai saham dalam jumlah yang berbeda, (3) Aliansi Stratejik Non-Ekuitas, yaitu kontrak diberikan untuk memasok, memproduksi atau mendistribusikan barang dan jasa perusahaan (tanpa pembagian ekuitas).

Terdapat 3 alasan yang menyebabkan terjadinya aliansi ini, yaitu (1) Pasar Siklus Lambat, oleh karena pasar siklus yang lambat, dengan aliansi ini diharapkan dapat memperoleh akses ke pasar yang dibatasi, menciptakana franchise dalam pasar yang baru dan memelihara stabilitas pasar. (2) Pasar Siklus Standar, dengan melakukan aliansi diharapkan dapat memperoleh kekuatan pasar, memperoleh akses ke sumber daya pelengkap, mengatasi halangan perdagangan, melayani tantangan persaingan dan juga belajar teknik bisnis baru. (3) Pasar Siklus Cepat, dengan situasi pasar yang siklusnya cepat,dengan aliansi ini diharapkan dapat meningkatkan produk, jasa atau masuk pasar, mempertahankan kepemimpinan pasar, mengatasi ketidakpastian.

Jaringan (Networks) merupakan suatu strategi yang melibatkan sekelompok perusahaan yang saling terkait yang bekerja untuk kebaikan bersama. Saya simpulkan dari berbagai sumber lain, terdapat 3 jenis jaringan, yaitu jaringan stabil yaitu hubungan jangka panjang yang sering muncul dalam industri dewasa dengan siklus pasar yang mudah diprediksi, jaringan dinamis yaitu tatanan yang berkembang dalam industri dengan perubahan teknologi yang sangat cepat yang menyebabkan siklus hidup produk yang pendek dan jaringan internal yaitu sistem manajemen yang digunakan untuk mengarahkan jaringan global pemasok dan pelanggan.

Jaringan merupakan prasyarat penting bagi seorang entrepreneur untuk memulai segala sesuatunya ketika tidak memiliki apapun. Sekecil apapun jaringan yg dimiliki sekarang, haruslah untuk dirawat dan dipelihara. Kita tidak pernah tahu kapan akan membutuhkan jaringan tersebut. Keberhasilan seorang entrepreneur tergantung pada jaringan dan mitra bisnisnya. Oleh karena itu membangun jaringan dan mengembangkan aliansi dan kemitraan bisnis haruslah merupakan kebiasaan yg selalu dikembangkan, khususnya bagi seorang entrepreneur.

.

Written by Sandy Wibisono

December 10, 2010 at 3:27 pm

Posted in Education

Tagged with , ,

Entrepreneurial Resources

leave a comment »

Mengapa suatu perusahaan secara terus menerus mampu mengungguli perusahaan lainnya? Salah satu jawaban yang ditawarkan terhadap pertanyaan ini adalah implementasi Resource-Based View – RBV (Peteraf, 1993).  RBV dikatakan sebagai pendekatan baru dalam formulasi strategic management, dan dalam penjelasan lain merupakan upaya membangun keunggulan kompetitif yang merupakan hasil (resultant) dari hubungan antara keaneka-ragaman, ex post limits to competition, imperfect mobility, dan ex ante limits to competition

Paradigma RBV memfokuskan pada pengembangan atau perolehan sumber daya (resources) dan kapabilitas (capabilities) yang khas dan sulit untuk ditiru oleh para pesaing. Paradigma RBV berpendapat bahwa sumber daya yang dimiliki perusahaan jauh lebih penting daripada struktur industri dalam memperoleh dan mempertahankan keunggulan kompetitif. Paradigma ini memandang perusahaan (organisasi) sebagai sekumpulan aset dan kapabilitas. Aset dan kapabilitas suatu perusahaan akan menentukan efisiensi dan efektifitas setiap pekerjaan yang dilakukan perusahaan. Paradigma RBV memandang bahwa beberapa aset (sumber daya) kunci tertentu akan memberikan perusahaan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dan pada akhirnya akan meningkatkan profitabilitas perusahaan. Profitabilitas perusahaan ditentukan oleh jenis, jumlah dan, sumber daya dan kapabilitas yang ada.

RBV merupakan salah satu pendekatan dalam merancang suatu strategi mencapai keunggulan (competitive strategy)  dengan mengunakan resources internal yang dimiliki perusahaan. Keunggulan dicapai bila resources tersebut hanya dimiliki oleh perusahaan atau pesaing tidak mudah menirunya. Untuk itu perlu dikenali faktor yang mempengaruhi eksistensi resources apakah dari keterbatasan supply atau dari upaya inovasi yang dilakukan terus menerus. Strategi berbasis resources (RBS) dikembangkan dengan memperhatikan ketersediaan resources. Pengelolaan resources dalam kaitan dengan strategi dipengaruh oleh perspektif manajer, apakah outside-in atau inside-out.

Analisa sumberdaya perusahaan dan posisinya dalam persaingan merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan dalam pengembangan strategi menggunakan RBV (Thompson et al, 2005). Pada tataran praktikal, analisa diawali dengan mempertanyakan seberapa baik strategi yang ada, kemudian melakukan identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahan sumberdaya perusahaan

 

yang dimiliki serta peluang dan ancaman yang ada di luar lingkungan perusahaan. Langkah berikutnya mengevaluasi apakah harga produk/jasa dan biaya sudah unggul dari para pesaing. Ketiga langkah di atas kemudian digunakan untuk menganalisis apakah perusahaan lebih kuat atau lebih lemah dari para pesaing. Dengan mengetahui posisi perusahaan relatif terhadap pesaing dalam suatu industri, manajemen dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengidentifikasi isu – isu strategis yang memerlukan perhatian, terutama bila strategi yang ada belum mampu menjawab perubahan yang terjadi di lingkungan luar, atau tidak dapat memanfaatkan sumberdaya perusahaan secara efisien dan efektif.

 

Written by Sandy Wibisono

December 9, 2010 at 2:34 pm

Posted in Education

Tagged with ,

Entrepreneurship dan innovation

leave a comment »

Dalam hal ini entrepreneurship dan inovasi merupakan suatu kesatuan yang saling mendukung, di mana suatu inovasi dapat mendukung entrepreneur / pengusaha untuk mengembangkan usahanya dan bersaing dengan pesaingnya. Banyak perusahaan telekomunikasi seperti Ericsson yang menggunakan inovasi sebagai strategi perusahaan untuk bersaing dengan kompetitornya dan memenangkan persaingan dalam pasar telekomunikasi. Ericsson mungkin salah satu perusahaan wirausaha besar. Perusahaan ini menggunakan setiap sarana yang ada untuk mengembangkan produk dan teknologi inovatif melalui penekanan usaha internal. Perusahaan ini melakukan investasi atau kerjasama dengan perusahaan lainnya untuk memperoleh akses ke inovasinya. Dengan berinvestasi pada Sony sehingga menghasilkan produk yang berinovasi yaitu Sony Ericsson untuk bisa melawan kompetiternya seperti Nokia, Samsung, dll. Ini merupakan contoh dari sistem aliansi strategi dari ericsson maupun sony untuk menjajaki / membuat ide – ide inovatif untuk menciptakan produk baru dan inovasi. Untuk menghasilkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan diperlukan inovasi yang (1) sulit untuk ditiru oleh para pesaing, (2) sanggup memberikan nilai yang berarti bagi pelanggan, (3) tepat waktu , dan (4) sanggup dimanfaatkan secara komersial melalui kemampuan yang ada dan kompetensi inti membantu perusahaan mengembangkan keunggulan bersaingnya. Pada perusahaan harus mempunyai kewirausahaan yang terdiri dari komitmen, cara pikir dan tindakan yang dianut perusahaan untuk mengembangkan dan mengelola inovasi. Hal ini sangat penting karena dengan adanya kewirausahaan perusahaan dapat menciptakan daya saing yang strategis. Adapun pengertian dari kewirausahaan perusahaan adalah seperangkat kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan atau memperoleh produk baru (barang atau jasa) dan mengelola proses inovasinya. Ada tiga tahap yang harus dilakukan pada proses inovasi, yaitu

Dalam hal ini penemuan adalah suatu tindakan yang menciptakan dan mengembangkan suatu ide produk baru. Lalu setelah melakukan proses penemuan dilakukan suatu inovasi yaitu suatu proses mengkomersilkan produk dari penemuan. Dan pada akhirnya , perusahaan lain dalam industri yang sama meniru produk baru yang telah kita ciptakan dan menanamkan inovasi. Peniruan ini mengakibatkan standarisasi produk dan penerimaannya dipasar sehingga akan menguntungkan perusahaan kita. Berhasil tidaknya inovasi yang telah diciptakan tergantung pada waktu kita untuk memperkenalkan produk inovatif kita kedalam pasar. Jangan sampai produk inovatif kita telambat di perkenalkan kedalam pasar oleh pesaing kita. Selain itu, kualitas produk juga harus di jaga mutunya dan akhirnya membantu perusahaan menciptakan nilai untuk pelanggan yang telah ditargetkan. Jika tiga hal ini berhasil diterapkan maka perusahaan akan sanggup mengambil atau mengekstraksi nilai dari inovasi. Ada dua cara untuk mendapatkan inovasi, yang pertama bisa diciptakan dari internal perusahaan dan yang kedua bisa melalui eksternal perusahaan dengan cara membeli / akuisisi inovasi yang sudah ada. Hal yang kedua ini biasanya dilakukan oleh perusahaan – perusahaan besar untuk menghasilkan dan mengelolah inovasi. Tapi perlu diperhatikan juga dampaknya apabila melakukan akuisisi inovasi, mungkin bisa membawa resiko dan merusak proses inovasi internal yang digunakan sebuah perusahaan untuk menciptakan produk baru.

Written by Sandy Wibisono

December 8, 2010 at 9:12 am

Posted in Education

Tagged with